Suku Baduy Yang Arif

Suku Baduy Yang Arif – Travel Series kali ini akan mengangkat tema tentang Suku Baduy yang arif.  Sumber artikel berasal dari Kompas.com dan link untuk ke sumber artikel ada di bagian akhir artikel ini.

Hari Minggu (16/2/2014) pagi, udara terasa segar dan bersih. Mentari pagi menyemburkan cahaya menyinari perkampungan suku Baduy Luar di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Suara burung dan gemericik air yang mengalir di sungai mewarnai perjalanan ”Kompas” ke suku Baduy.

Ada suasana damai yang terasa saat menyusuri rumah-rumah panggung milik penduduk suku Baduy Luar yang dibangun saling berhadapan itu.

Suku Baduy Yang Arif

Suku Baduy

Mengunjungi Baduy yang berjarak sekitar 120 kilometer dari Jakarta bukan sekadar perjalanan biasa, tetapi sekaligus momen untuk menyegarkan diri dari hiruk-pikuk dan keruwetan di Ibu Kota.

Selain itu, pengunjung juga dapat belajar tentang kearifan lokal. Meskipun adat istiadat warga Baduy Luar tidak seketat masyarakat di Baduy Dalam, ciri umum kehidupan mereka sama, yakni hidup berdampingan secara damai selaras dengan alam sekitar.

”Masyarakat suku Baduy hidup dalam kesederhanaan, gotong royong, cinta damai, dan anti-narkoba,” kata Dainah (55), Kepala Desa Kanekes.

Suku Baduy merupakan salah satu suku asli Banten. Jumlah penduduknya sekitar 11.000 jiwa lebih. Lokasi suku Baduy berada di kaki pegunungan Kendeng. Jika ingin menuju ke Baduy Dalam harus berjalan kaki sekitar tiga hingga empat jam.

Di sepanjang perjalanan menuju Baduy Dalam, panorama alam yang indah dan asri bisa dinikmati para pengunjung. Wilayah suku Baduy terbagi dua, yakni Baduy Dalam dan Baduy Luar. Suku Baduy Dalam merupakan penduduk yang masih menjaga adat istiadat dengan ketat. Adapun Baduy Luar sudah berbaur dengan masyarakat sekitar.

Hormati adat istiadat

Jika ingin menginap di Kampung Baduy, para pengunjung selain harus mempersiapkan fisik, juga harus menghormati dan mematuhi ketentuan adat yang berlaku di kawasan ulayat masyarakat Baduy.

Menurut Dainah, tanah ulayat masyarakat Baduy seluas 5.000 meter persegi, sementara kawasan hutan lindung yang harus mereka pelihara seluas 3.000 meter persegi.

Setiap pengunjung yang hendak menginap di rumah warga Baduy harus mematuhi sejumlah larangan, di antaranya larangan membawa tape atau radio, tidak menangkap atau membunuh binatang, tidak membuang sampah sembarangan, tidak menebang pohon, tidak mengonsumsi minuman memabukkan, dan tidak melanggar norma susila.

Khusus untuk warga asing tak boleh masuk ke wilayah Baduy Dalam yang warganya selalu berpakaian hitam dengan ikat kepala berwarna putih. Tidak hanya itu, jika berada di kawasan Baduy Dalam, pengunjung dilarang untuk merokok, memotret, dan menggunakan sabun serta odol.

Suku Baduy Yang Arif

Bahkan, suku asli Baduy Dalam ke mana pun mereka pergi tidak boleh menggunakan alas kaki dan dilarang menggunakan kendaraan. Ke mana pun mereka pergi harus berjalan kaki.

”Kalau larangan dilanggar selalu ada akibatnya, misalnya badan terasa sakit. Kalau kita sakit dalam waktu lama akan ditanya oleh Puun (kepala adat). Nah, kalau sakitnya karena melanggar aturan adat bisa dikenai sanksi hingga dikeluarkan dari Baduy Dalam,” ujar Aldi (20), penduduk suku Baduy Dalam.

Warga Baduy Dalam menetap di Kampung Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik. Orang asing hanya diizinkan masuk hingga wilayah Baduy Luar yang warganya selalu berpakaian hitam.

Sementara itu, pada bulan Kawalu (masa panen tiga bulan berturut-turut pada bulan Februari hingga April), Baduy Dalam ditutup untuk semua orang luar. Namun, pengunjung pada bulan Kawalu tetap bisa bertemu dengan warga Baduy Dalam saat mereka keluar dari kampungnya.

Adat Baduy sangat membatasi sentuhan dengan dunia modern, terutama pada listrik dan peralatan elektronik. Karena itu, para pengunjung yang akan menginap harus membawa senter untuk memudahkan saat ke kamar kecil pada malam hari.

Suku Baduy

Perkampungan Suku BaduySelain itu, jaket juga bisa membantu untuk menghangatkan badan di malam hari yang dingin di perkampungan Baduy. Rasa dingin itu sangat menusuk tulang karena warga Baduy tidur di lantai rumah panggung berupa palupuh yang terbuat dari bambu dan bukan di atas dipan.

Angin tidak hanya dirasakan dari embusan di atas, tetapi juga dari bawah rumah panggung yang masuk dari sela dinding yang terbuat dari bilik bambu.

Apabila datang saat musim hujan, pengunjung sebaiknya menggunakan alas kaki yang cocok dipakai di tanah licin dan berlumpur. Sepatu atau sandal gunung direkomendasikan karena solnya telah didesain mampu ”mencengkeram” ketika berpijak sehingga tidak mudah tergelincir, apalagi di jalan menanjak.

Jangan lupa pula membawa jaket atau jas hujan dan tudung tas yang kedap air untuk melindungi barang bawaan agar tidak basah. Minyak anti-nyamuk silakan pula dibawa untuk menghalau serangga tersebut, terutama ketika berjalan-jalan ke hutan atau ke ladang.

Apabila menginap di perkampungan Baduy Luar, kita masih bisa menggunakan sabun atau sampo ketika mandi. Adapun di Baduy Dalam, kedua benda itu pantang dipakai.

Selain itu, obat-obatan pribadi juga harus dibawa, terlebih karena di dalam perkampungan Baduy tidak ada puskesmas dan apotek. Masyarakat Baduy selalu menggunakan dedaunan untuk mengobati setiap penyakit yang mereka derita.

Ikuti Update Yuk...

No spam !

The Raid 2 Berandal : Cedera Pemain & Fighter
Film The Raid 2 Berandal : Adegan Mobil
Please sharing if you like :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *